Widget HTML #1



Bahaya! Emosian ke Anak ; Marah Setelah Itu Merasa Bersalah.


 Pertanyaan :

Tapi saya emosian orgnya ustadz, kalo sdh terlanjur marah sama anak, ujung2nya baru nyesel — @pialie.21


Jawaban :

Rasa menyesal yang muncul di ujung itu sebenarnya adalah bukti betapa besarnya rasa sayang Umu ke anak. Ibu yang tidak peduli tidak akan merasa menyesal. Penyesalan itu hadir karena nurani Umu tahu, anak adalah amanah terindah yang ingin Umu rawat dengan penuh kelembutan.


Menjadi ibu itu lelahnya luar biasa—fisik, mental, dan emosi bertumpuk jadi satu. Jadi, jangan terlalu menghakimi diri sendiri secara berlebihan ya, Umu. Kita ini manusia biasa, bukan malaikat. Yang terpenting adalah bagaimana kita merekat kembali (repair) hubungan dengan anak setelah badai emosi itu berlalu.


Berikut adalah langkah nyata yang bisa Umu lakukan saat emosi sudah terlanjur meledak:


1. Segera Minta Maaf dan Peluk Anak (Jangan Gengsi)

Anak-anak itu makhluk yang paling pemaaf di dunia. Ketika emosi Umu sudah dingin, datanglah ke anak, sejajarkan posisi mata Umu dengan matanya, lalu minta maaf secara jujur dan tulus.


"Kak/Adek, maafin Umu ya... Tadi Umu suaranya tinggi dan marah-marah. Umu tadi capek dan emosi, tapi itu bukan salah Kamu. Umu yang salah karena ga bisa nahan emosi. Umu sayang banget sama Kamu."


Dampaknya luar biasa: Ini tidak akan menurunkan wibawa Umu. Justru ini mengajarkan anak pelajaran karakter yang mahal: bahwa orang dewasa pun bisa berbuat salah, dan hal yang bertanggung jawab untuk dilakukan adalah mengakui kesalahan dan meminta maaf.


2. Gunakan "Rumus 5 Detik" Saat Emosi Mulai Naik

Lain kali, ketika rasa kesal itu mulai menjalar dari dada ke leher (sebelum meledak jadi teriakan):

  • Tarik napas panjang & tahan 5 detik: Beri jeda antara stimulus (perilaku anak) dan respon Umu.
  • Ubah Posisi & Beristigfar: Jika sedang berdiri, segeralah duduk. Ucapkan "Astaghfirullahal'adzim" di dalam hati.
  • Tinggalkan Ruangan Sejenak (Time-out untuk Ibu): Bilang ke anak secara tenang, "Umu lagi kesal banget. Umu ke kamar mandi/kamar dulu sebentar ya buat nenangin diri."


3. Kenali dan Rawat "Tangki Emosi" Umu Sendiri

Sering kali kita marah bukan pure karena kesalahan anak yang besar, melainkan karena tangki emosi Umu sendiri yang sudah kosong melompong.

  • Apakah Umu kurang tidur?
  • Apakah Umu lelah fisik karena urusan rumah/kerjaan?
  • Apakah ada ganjalan emosi lain yang belum selesai?
  • Anak hanyalah pemicu kecil dari ledakan beban yang sudah Umu tumpuk sendiri. Mulai sekarang, izinkan diri Umu untuk istirahat sejenak (self-care). Ibu yang bahagia dan tenang adalah kunci rumah yang adem.


4. Jadikan Doa Sebagai Benteng

Rasulullah ﷺ mengingatkan kita untuk tidak mendoakan keburukan saat marah. Saat Umu merasa ingin sekali berteriak atau meluapkan amarah, paksa lidah Umu untuk mengubah teriakan itu menjadi doa kebaikan yang nyaring.


Ganti ucapan kekesalan dengan:

"Ya Allah... berikan anak ini kesalehan! Lembutkan hatinya, Ya Allah!"

Selain meredam emosi Umu, kata-kata itu akan menjadi doa yang diijabah oleh Allah.


"Umu, tidak ada ibu yang sempurna di dunia ini. Yang ada adalah ibu yang terus belajar menjadi lebih baik setiap harinya. Jangan biarkan rasa bersalah menggerogoti kebahagiaan Umu. Hapus air matanya, peluk anakmu hari ini, dan mulailah lembaran baru dengan basmalah."

Semoga Allah selalu melapangkan dada Umu, mengurniakan kesabaran seluas samudera, dan melembutkan hati seluruh anggota keluarga. 


Abul Azmy

Pengajar Ma’had Al-Makna Al-Islami

Lumajang, 24 Safar 1448 H

Posting Komentar untuk "Bahaya! Emosian ke Anak ; Marah Setelah Itu Merasa Bersalah."

Yuk Jadi Orang Tua Asuh Santri Penghafal Al Qur’an