Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1



Jangan Jadikan Fitnah, Ghibah Dan Janda Sebagai Candaan


Urusan sindir menyindir di media sosial, kita langsung bisa nyambung dan ngerti ini fulan sedang menyindir siapa. Lalu mulai sorak sorai tiap kelompok di kolom komentar tokoh. Jikapun kita belum tahu siapa, rasa penasaran kita terhadap siapa melebihi penasaran kita akan arti ayat tertentu. Atau bahkan tidak penasaran sama sekali. Apalagi asbabun nuzul. Tidak penasaran kitab ulama fulan isinya apa.


Kemudian disindir seperti ini, paling mentoknya ya cuma tekan opsi emot sedih. Itu sudah paling mentok. Setelah itu tidak ada perubahan.


Karena siklus dan durasi kita bermedsos jauh lebih banyak dibandingkan muraja'ah, muthala'ah dan mudzakarah. Akui saja. Tapi jangan cuma mengaku. Ya perubahan positifnya mana?


Kita ini belum sampai derajat penuntut ilmu. Masih derajat penuntut receh, susukan fitnah dan lebih suka konsumsi ghibah dan namimah. Hikayat ini bukan keputusasaan melihat pegiat medsos di kalangan kajian. Tetapi kalau ini bukan kenyataan, kenapa Anda merasa kok hikayat ini memang benar terjadi dan Anda rasakan sendiri, bukan?


Kalau ikhwan-ikhwan kita lebih nyambung saat bicarakan fitnah, ghibah dan janda, maka di situ kita tahu kualitas keilmuan mereka ini menuju zona degradasi. Fitnah itu untuk dijauhi. Ghibah itu untuk diklarifikasi. Janda itu tidak untuk dibicarakan tetapi jika ingin dan mampu, silakan menikahi. Jika fitnah, ghibah dan janda dijadikan candaan dan obrolan harian, maka tidak tampak di wajah-wajah ikhwan ini kecuali kebodohan.


Sumber diambil dari facebook Ustadz Hasan Al Jauzy

https://www.facebook.com/100000941826369/posts/6732073520167309/?d=n

Posting Komentar untuk "Jangan Jadikan Fitnah, Ghibah Dan Janda Sebagai Candaan"