Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1



Bukan Siapa Yang Hebat di Awal, Namun yang Bisa Bertahan Hingga Akhir


 Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


ياايها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقونأياماً معدودات


"Wahai orang yang beriman, diwajibkan atas kalian puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa di hari-hari yang singkat". (QS. Al-Baqarah: 183-184)


Hari-hari telah berlalu begitu cepat, memperlihatkan orang-orang yang cepat dan lambat dalam amalannya.


Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebut Ramadhan sebagai:


أياماً معدودات


"Hari-hari yang bisa di hitung, hari-hari yang begitu cepat".


Secepat kehidupan manusia di dunia. Mengingatkan akan hari pertemuan seorang hamba dengan Rabbnya. Dan menggentak kesadaran, begitu berharganya waktu yang cepat berlalu. Apakah kita termasuk orang yang tertinggal, atau orang yang ikut berkompetisi. Sebuah start (awal) bukan segalanya, namun finish (akhir) yang baik, diawali dari sebuah start yang baik pula. Ini kaidah kehidupan.


Apa persiapanmu wahai saudaraku ? Kata "mu" termasuk kami, kita berserikat di dalamnya. Para ulama dahulu, mereka mempersiapkan diri sejak Rajab, Syaban sampai datangnya bulan yang di tunggu itu, yaitu Ramadhan.


Tulisan ini ingin mengingatkan kita semua akan berharganya tiap detik dari waktu Ramadhan. Hanya orang yang pernah kehilangan yang akan tau makna tangisan yang sesungguhnya. Sebagimana orang yang mati saja, yang tau harga perjalanan dalam setiap detik kehidupan. Namun, apa guna penyesalan, bila kita lalai dari ini semua. Maka, sebelum semua terlambat persiapkan dirimu untuk tamu mulia ini.


Persiapan Sebelum Ramadhan

1) Persiapkan ketaqwaan.


Sebagian orang dingin dengan kata Ramadhan. Bagi mereka, Ramadhan sekedar perubahan jam makan, harus ada ekstra waktu yang terpotong untuk istirahat dan selebihnya untuk ritual ibadah rutinitas tahunan dan seperti biasanya.


Sebagian orang menganggap Ramadhan adalah waktu menghitung pengeluaran lebih dan menghabiskan bagjet dari uang THR dan menulis daftar panjang belanja.


Sebagian orang memahami Ramadhan adalah waktu meraup keuntungan dari penjualan dan masa-masa panen, terutama sebelum Iedul Fitri. Sebagian yang lain berbinar mata dengan aneka warna makanan dan minuman yang tidak ada di hari lain. Sementara hati mereka kosong dari taqwa dan persiapan untuknya.


Pelajaran-pelajaran penting tentang taqwa. Dari rasa takut, persiapan kehidupan akhirat, empati, keseriusan dan rasa khusyu serta kesungguhan dalam pendekatan diri seorang hamba yang selama ini terkabutkan oleh debu-debu dunia. Hilang dari daftar yang harus di persiapkan.


Mereka adalah golongan yang memakmurkan yang dzahir dan membinasakan yang batin dari dirinya. Disebutkan dalam syair:


عليك بتقوى الله إن كنت غافلايأتيك بالازراق من حيث لا تدرى


Hendaknya engkau bertaqwa kepada Allah, bila engkau selama ini lalai. Maka, akan datang rezeki kepadamu dari arah yang tiada engkau sangka. 


فكيف تخاف الفقر و الله رازقافقد رزق الطير و الحوت في البحر


Maka, bagaimana mungkin engkau takut fakir sedang Allah adalah pemberi rezeki. Telah diberi rezeki burung dan ikan di lautan.


و من ظن أن الرزق يأتي بقوةما اكل العصفور شيئاً مع النسر


Dan siapa yang menyangka bahwa rezekinya datang atas kekuatannya. Tentu burung pipit tidak akan makan sedikitpun dari burung elang (yakni kalah rezeki).


فكم من صحيح مات من غير علةو كم من سقيم عاش حينا من الدهر


Maka, berapa banyak orang yang sehat, mati tanpa sebab. Dan berapa banyak orang sakit yang bertahan melampau masa.


و كم من فتى امسى و اصبح ضاحكاو اكفانه في الغيب تنسج و هو لا يدري


Dan berapa banyak pemuda pagi dan sore harinya di lalui dengan gela tawa. Sedang kain kafannya di persiapkan untuknya dan ia tidak menyadari.


فمن عاش الفا و الفينفلا بد من يوم يسير الى القبر


Barangsiapa diberi umur seribu atau dua ribu tahun. Tidak bisa tidak, ia akan temui satu hari yang ia berjalan menuju kubur.


Hendaknya nasihat ini, kita wujudkan dipelupuk mata kita agar kehidupan akhirat selalu tergambar di jiwa ini.


2) Hendaknya ia membersihkan hati dari hal-hal yang menyibukkan dirinya dari kelalaian.


Manusia hidup dengan ego, cita dan harapan serta keinginan untuk capaian-capaian. Dan ia hidup bersama manusia yang lain, yang memiliki sifat yang sama.


Pertarungan antara kepentingan dan ego ini diantaranya manusia, menyebabkan munculnya sakit hati, kesedihan, marah, persaingan dan rivalitas, hasad (dengki) dan semisal dari keburukan-keburukan yang menjadikan sakitnya hati dan hilangnya ketenangan.


Maka dari itu, belajarlah untuk kembali memeriksa hati dan kondisinya. Buang dan obati setiap virus dari hati yang akan menghalangimu dari Allah dan kesuciannya. Usahakan engkau memasuki Ramadhan dengan hati yang tenang dan lapang, selapang pagi hari yang cerah. Hati adalah sarang gelap dan terangnya jiwa, bila hati ditumbuhi virus, maka sungguh ketenangan jiwa tiada akan didapat.


3) Persiapakan diri dengan ilmu.


Ilmu yang akan membedakan seseorang dengan kebodohan, baik dalam tindakan, ucapan, dan langkah yang di ambil. Demikian juga dengan Ramadhan. Wajib bagimu untuk berilmu tentangnya, karena bulan ini merangkum semua kebaikan dalam hari-hari dalam setiap tahunnya.


Ilmu tentang puasa dan seluk beluknya, ilmu tentang masjid, i'tikaf, shalat tarawih, zakat, sedekah, adab-adab terhadap Al-Qur'an dan ilmu yang terkait masalah khusus kewanitaan dan lainnya.


4) Persiapan kondisi fisik dan waktu agar sempurna menghadapi Ramadhan.


Sebagian orang, mereka tidak mengetahui cara memenejemen waktu. Dan akhirnya waktunya terbuang sia-sia tanpa faidah dunia dan agama. Maka, tidak ada waktu dan alasan lagi untuk tidak memulai dari hari ini. Kita berupaya mengatur kembali waktu-waktu kita, terutama terkait Ramadhan.


Ingat, dunia telah mengajak kita untuk berrivalitas, bertarung dan selama ini kita telah di pecundangi olehnya. Dan kita telah bergelut sebelas bulan sebelumnya. Apakah ketamakan pada dunia ini akan terus kita bawa, hatta saat masuk Ramadhan ?


Ulama dahulu, sebagian mereka meliburkan diri sejak masuk bulan Syaban untuk fokus persiapan lahir batin menghadapi Ramadhan. Mereka menata kembali ibadah, hati dan amal-amal mereka yang lain.


Benar, kita tidak memaksa orang lain agar seperti itu. Namun, paling tidak ada keseriusan dalam niat dan keinginan untuk berubah, kapan lagi kalau bukan hari ini ?


Kesempatan tiada datang dua kali. Maka perbaiki niatmu, maka Allah akan membuktikan kejujurannya.


Betapa seseorang belum tersadar dari tidurnya, namun sesaat sebelum masuk Ramadhan ia bangkit dari tidurnya, menyesali perbuatannya selama ini yang lalai. Dan dengan kejujuran niatnya, maka itu melampaui orang-orang yang telah mempersiapkan diri dengan ibadahnya. Subhanallah. Saudaraku masih ada waktu, bergegaslah.


Contoh Mengelola Waktu Dibulan Ramadhan

Disini sedikit saya akan berikan gambaran pengelolaan waktu, meskipun kita tau, tidak semua orang sama dalam waktu-waktunya dan kondisi yang di hadapinya. Namun secara umum bisa dipetakan. Bila semua memiliki kemauan dan kejujuran niat.


Sedikit gambaran umum (dengan meninggalkan TV dan kesibukan lain yang melalaikan):


- Bangun pukul 02.30 sampai Shubuh.


Kita bisa persiapkan sahur di sela-selanya perbanyak istighfar dan doa. Sahur dengan keluarga dan dengan sederhana di akhir waktu sahur. Dan persiapkan sebaik mungkin untuk shalat subuh. Kemudian mengkondisikan putra dan putri serta diri.


- Ba'da Shubuh sampai waktu awal Dhuha.


Bisa kita gunakan untuk dzikir, baca dzikir pagi, tilawah Al-Qur'an dan mendengarkan kajian (offline dan online) dengan syarat kita gusur dulu keinginan tidur. Kemudian shalat Dhuha.


- Waktu Dhuha sampai Dzuhur.


Kita bisa gunakan untuk aktivitas (kerja dan kesibukan). Tidur qolilullah.


- Setelah Dzuhur sampai Ashar.


Tilawah Al-Qur'an, istirahat dan aktivitas.


- Setelah waktu Ashar sampai Maghrib.


Bisa di gunakan untuk dzikir sore dan tilawah Al-Qur'an. Mengkondisikan putra putrinya. Kemudian persiapan buka puasa.


- Maghrib sampai Isya.


Buka puasa dan waktu untuk keluarga.


- Waktu Isya sampai pukul 21.00.


Tilawah Al-Qur'an setelah buka puasa, persiapan isya dan tarawih. Setelah tarawih, gunakan untuk istirahat atau tilawah sejenak.


Tentu tidak semua jadwal yang dibuat seindah guratan tulisannya. Namun, paling tidak kita sudah membuat skala dan prioritas dalam Ramadhan tahun ini. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala mudahkan kita menyampaikan umur kita pada Ramadhan dan mengistiqamahkan hingga akhir, ingatlah pesan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya” (HR. Bukhari 6607)


وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم


Maraji: Taisir Karimi Rahman fi Tafsir Kalamim Manan, Tafsir Ibnu Katsir, Lathaiful Ma'arif, Ad-Daa wa Ad-Dawaa, Talbisul Iblis, Az- Zuhd, Fiqih Ramadhan, Al-Wajiz, Bulughul Maram, Untukmu Yang Berjiwa Hanif dan lain-lain.

Ustadz Abu Abdurrahman Al-Atsary hafidzhahullah

Posting Komentar untuk "Bukan Siapa Yang Hebat di Awal, Namun yang Bisa Bertahan Hingga Akhir"